Ruang Polewali – Ketua PBNU Sebut NTB Basis NU Paling Dinamis, Apa Rahasianya? Pernyataan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menyebut Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai basis NU paling dinamis di Indonesia menarik perhatian banyak kalangan. Dinamika ini tidak hanya mencerminkan jumlah besar warga nahdliyin, tetapi juga menunjukkan bagaimana organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan zaman di Bumi Gora.
Lalu, apa sebenarnya rahasia di balik predikat tersebut?
baca juga:Disbun Sulbar Monitoring Penyaluran Bibit Kakao di Polewali Mandar
NU di NTB: Akar yang Menguat di Tanah Sasak dan Samawa-Mbojo
NU telah hadir di NTB sejak era awal kemerdekaan. Jejaknya begitu kuat melalui jaringan pesantren tradisional di Pulau Lombok maupun Sumbawa. Di Lombok, NU tumbuh bersama tradisi Islam Wetu Telu dan kemudian memperkuat Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
Sementara di Sumbawa dan Bima, NU berkembang di tengah masyarakat yang memiliki kultur keislaman kental. Pesantren menjadi pusat penyebaran sekaligus benteng pendidikan keagamaan yang mampu melahirkan tokoh-tokoh ulama karismatik.
Dinamis Karena Terbuka
Ketua PBNU menilai, yang membuat NTB begitu dinamis adalah keterbukaan NU di daerah ini terhadap perubahan sosial. NU NTB tidak hanya mengurus persoalan ritual dan pendidikan pesantren, tetapi juga aktif dalam isu-isu pembangunan, lingkungan, hingga ekonomi kerakyatan.
Banyak kiai muda yang berani mengambil peran publik, baik sebagai pendidik, aktivis sosial, maupun pejabat daerah. Hal ini menjadikan NU di NTB tampil adaptif dan relevan bagi masyarakat modern.
Pesantren Jadi Pusat Inovasi
Pesantren-pesantren besar di Lombok, seperti Nahdlatul Wathan (NW) dan jaringan pesantren NU lainnya, kini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membuka ruang untuk inovasi. Dari program kewirausahaan santri, pengembangan pertanian, hingga pemanfaatan teknologi digital, semuanya menjadi bagian dari dinamika baru NU NTB.
Santri-santri tidak hanya fasih membaca kitab kuning, tetapi juga mampu mengelola usaha, aktif di media sosial, bahkan terlibat dalam gerakan literasi digital.
Basis Politik dan Sosial yang Kuat
NTB juga dikenal sebagai daerah dengan basis politik nahdliyin yang solid. Banyak tokoh NU di NTB sukses meniti karier di dunia politik maupun birokrasi. Namun, yang menarik, dinamika politik ini tetap terjaga dengan nuansa kebersamaan dan persaudaraan, tanpa meninggalkan prinsip keagamaan.
“NU di NTB punya kemampuan menjaga keseimbangan antara politik praktis dan politik kebangsaan. Itulah salah satu faktor yang membuatnya dinamis,” ujar seorang pengamat politik lokal.
Perempuan dan Anak Muda NU Jadi Motor
Rahasia lain dari dinamika NU di NTB adalah peran besar perempuan dan anak muda. Gerakan Muslimat, Fatayat, hingga IPPNU di NTB terbilang aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi.
Kaum muda NU juga menonjol di dunia kreatif dan digital. Banyak komunitas santri muda di Lombok yang mengelola media sosial untuk dakwah kreatif, konten edukasi, hingga gerakan lingkungan.
NU dan Pariwisata Religi
Tak kalah penting, NTB kini menjadikan basis NU sebagai modal sosial untuk mendukung sektor pariwisata. Di Lombok, misalnya, geliat wisata halal dan wisata religi tumbuh beriringan dengan pengaruh pesantren dan kultur NU. Tradisi maulid, ziarah, hingga budaya gotong royong menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Penutup: Dinamika yang Jadi Teladan
Pernyataan Ketua PBNU bahwa NTB adalah basis NU paling dinamis bukanlah sekadar pujian kosong. Dinamika itu nyata: dari pesantren yang berinovasi, tokoh muda yang adaptif, perempuan yang aktif, hingga masyarakat yang terbuka.
NTB membuktikan bahwa NU bisa menjadi organisasi keagamaan yang kokoh menjaga tradisi, sekaligus lincah mengikuti perubahan zaman. Sebuah pelajaran berharga bagi basis NU di daerah lain: dinamika adalah kunci agar tradisi tetap lestari, namun relevansi tetap terjaga.




