, ,

Ritual Sakral Masossor Manurung Kembali Digelar, Mandikan Keris Pusaka Mamuju

oleh -685 Dilihat

Masossor Manurung: Menyucikan Pusaka, Merajut Asa Pariwisata Budaya Sulbar

Polewali Suasana khidmat dan magis menyelimuti pelaksanaan ritual Masossor Manurung, sebuah upacara adat sakral untuk memandikan keris pusaka peninggalan Kerajaan Mamuju. Setelah jeda dua tahun, tradisi yang penuh makna ini kembali digelar, tidak hanya sebagai penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sebagai sebuah festival budaya yang memikat.

Ritual Sakral Masossor Manurung Kembali Digelar, Mandikan Keris Pusaka Mamuju
Ritual Sakral Masossor Manurung Kembali Digelar, Mandikan Keris Pusaka Mamuju

Baca Juga : Ketua Askab PSSI Polman Siap Bertarung Dalam Pemilihan Ketua KONI Periode Mendatang

Ritual yang dalam bahasa setempat berarti “memandikan yang turun dari langit” ini telah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dan Kerajaan Mamuju pun bersinergi, menetapkan Masossor Manurung sebagai aset utama dan ikon pariwisata budaya yang akan diangkat ke kancah internasional.

Lebih dari Sekadar Pencucian Keris: Simbol Pemurnian Jiwa dan Persaudaraan

Masossor Manurung bukan sekadar upacara membersihkan benda pusaka dari lapisan fisik. Ia adalah sebuah metafora yang dalam—sebuah cermin bagi setiap insan untuk membersihkan diri dan menyucikan hati. Setiap tetes air yang membasuh keris Manurung diharapkan juga membasuh segala noda dan kesalahan dalam hati nurani masyarakat.

Yang tak kalah menarik, ritual ini menyimpan benang merah sejarah yang menghubungkan Mamuju dengan Kerajaan Badung di Bali. Sebuah ikatan persaudaraan yang terjalin ratusan tahun silam, menjadikan Masossor Manurung tidak hanya milik orang Sulbar, tetapi juga sebuah narasi budaya bersama yang memperkaya khazanah Nusantara. Kehadiran perwakilan keluarga besar Bali dalam ritual ini semakin mengukuhkan ikatan tersebut.

Acara yang penuh khidmat ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, antara lain Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka; Sang Pewaris Tahta, Maradika Mamuju Andi Bau Akram Dai; Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi; Bupati Mamuju Tengah, jajaran Forkopimda, Raja Binuang, serta Lembaga Adat Galaggar Pitu.

Mendorong Tradisi ke Panggung Ekonomi Kreatif

Dalam sambutannya, Gubernur Suhardi Duka menekankan pentingnya adaptasi tanpa kehilangan esensi. Di era modern ini, nilai-nilai luhur budaya harus bisa ditransformasikan menjadi kreativitas yang memiliki daya tarik ekonomi.

“Tradisi dan budaya ini harus bisa kita naikkan menjadi sebuah kreasi,” tegas Gubernur. “Dengan demikian, ia tidak hanya disakralkan, tetapi juga dapat kita pasarkan sebagai objek kunjungan wisata yang mampu menyedot perhatian wisatawan mancanegara. Inilah wujud nyata di mana budaya berkolaborasi dengan kepentingan ekonomi kontemporer.”

Pusaka Manurung: Legenda yang Menyatu dengan Identitas Masyarakat

Sang Maradika Mamuju, Andi Bau Akram Dai, dalam pidatonya mengungkapkan apresiasi yang mendalam atas dukungan semua pihak. Ia kemudian menyingkap legenda di balik keris Manurung, yang diyakini bukan benda buatan manusia biasa.

“Pusaka Manurung ini dipercaya terlahir secara gaib, bersamaan dengan seorang putra raja Mamuju sekitar 15 abad yang lalu,” paparnya.

Budaya sebagai Perekat Sosial dan Fondasi Pembangunan

Selaras dengan hal tersebut, Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi melihat momentum ini sebagai alat pemersatu yang ampuh. Dalam era yang penuh dengan perubahan, identitas budaya adalah penanda yang tidak boleh pudar.

“Momentum Masossor Manurung ini harus kita jadikan sebagai perekat sosial, penguat identitas, dan landasan moral untuk membangun Mamuju yang keren, maju, dan berkarakter,” serunya. “Pemerintah berkomitmen penuh untuk terus bersinergi dengan semua lembaga adat dalam menjaga warisan leluhur. Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan dan menghidupkan kearifan lokal.”

Dengan semangat kolaborasi yang terbangun, Masossor Manurung telah melangkah lebih jauh dari sekadar ritual. Ia kini adalah sebuah living culture (budaya yang hidup)—sebuah janji untuk melestarikan warisan nenek moyang sambil merangkul masa depan pariwisata Sulawesi Barat yang lebih cerah.

Melangkah ke Masa Depan: Dari Ritual Sakral Menoga Destinasi Unggulan

Pemerintah tidak hanya berhenti pada komitmen verbal. Selanjutnya, mereka segera menyusun peta jalan konkret untuk mengangkat Masossor Manurung ke tingkat yang lebih tinggi. Sebagai langkah awal, Dinas Pariwisata setempat mulai merancang paket tur budaya khusus yang merangkai ritual ini dengan destinasi wisata lain di Mamuju. Misalnya, mereka berencana mengemas tur “Jejak Kerajaan Mamuju” yang menggabungkan kunjungan ke situs bersejarah, pertunjukan seni tradisional, dan tentu saja, kesempatan menyaksikan langsung kemegahan Masossor Manurung.

Di sisi lain, komunitas muda lokal juga menunjukkan peran yang sangat aktif

Mereka tidak tinggal diam. Selain itu, sinergi antara pemerintah dan kerajaan membuahkan hasil yang nyata. Contohnya, untuk mendukung pengalaman wisata yang maksimal, pihak kerajaan bersama lembaga adat Galaggar Pitu menyiapkan narator atau pemandu wisata khusus.

Tak hanya itu, gelaran Masossor Manurung tahun ini juga menghadirkan rangkaian festival pendukung. Sepanjang minggu pelaksanaan ritual, pengunjung dapat menikmati pameran kuliner khas Sulbar, pagelaran musik tradisional, dan lomba menenun.

Pada akhirnya, perhelatan Masossor Manurung telah membuktikan suatu hal penting. Sebuah tradisi kuno justru dapat menjadi mesin penggerak yang powerful bagi pembangunan masa kini.

Shoppe Mall

No More Posts Available.

No more pages to load.